Sabtu, 07 Mei 2011

BUDI PEKERTI

Banyak peneliti menyimpulkan, perilaku remaja kini semakin jauh dari norma kesusilaan. Kriminalitas, seks bebas, dan berbagai bentuk kemerosotan moral melanda mereka, seolah tiada jaring pengaman. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN) pada akhir tahun 2008 merilis pernyataan bahwa 63% remaja usia SMP dan SMA sudah berhubungan seks di luar nikah, yang lebih mengejutkan 21% di antaranya melakukan aborsi untuk menghapus jejak kenakalannya itu. Celakanya, pintu menuju perilaku destruktif itu kerap tidak disadari orang tua. Bahkan banyak pintu yang dinilai sebagai bagian tren kekinian. Sehingga, tidak perlu mendapat koreksi, apalagi pembelokan.

Valentine`s day, misalnya. Hari keempat belas setiap februari itu dijadikan tren anak muda untuk mencurahkan kasih sayang, terutama kepada kekasih. Perjalanan kasih sayang itu terus melebar, menjadi semakin permisif. Didukung perilaku dalam film yang kerap menjadi panutan anak muda padahal semakin jauh dari norma kesusilaan, hari kasih sayang itu kemudian menjadi hari hura-hura seks. Sementara sejumlah orang tua justru ada yang merasa malu kalau anak mereka tidak mengikuti gempita valentine`s day, karena khawatir dinilai konservatif, tidak modern, oleh tetangga.

Belum lagi tentang etika. Kini, tatakrama antara yang muda kepada yang tua menjadi semakin luntur. Dulu, dalam tradisi jawa, anak muda selalu menggunakan bahasa halus (krama, krama inggil) ketika bicara dengan yang lebih tua. Kini tradisi itu memudar. Bahkan, panggilan ‘mas’ atau ‘kang’ kepada saudara tua menjadi langka. Ironisnya, melunturnya tradisi tatakrama itu bukan lagi menjadi sesuatu yang patut diprihatinkan. Masyarakat sudah menganggap biasa, bahkan tatakrama dikesankan sebagai sikap yang kurang cerdas.

Dengan kata lain, telah terjadi pergeseran nilai dalam budaya manusia. Tak jelas kapan muasalnya. Yang pasti, arus informasi yang kian tak terbendung, dan sikap permisif yang tak mengenal tolok ukur, menjadi penyebab utama pergeseran itu.

Meski demikian, bukan berarti kita tidak bisa meminimalisir atau bahkan pada bagian-bagian tertentu menetralisir. Persoalannya, apakah kita punya niat kuat untuk menyelamatkan generasi bangsa ini?

Penyelamatan itu bisa dimulai dari lembaga pendidikan, sampai di arena pergaulan masyarakat. Dulu, sebelum tahun 80-an, di setiap sekolah ada pelajaran Budi Pekerti. Isinya selalu merujuk pada agama. Murid diajari berbagai tatakrama, sampai pengenalan yang haq dan yang bathil. Ditambah dengan pelajaran agama (Islam) yang cukup. Pada pelajaran itu, ada konsekuensi tegas bila terjadi pelanggaran. Bukan hanya bagi siswa, guru pun memperoleh sanksi.

Siswa tidak hanya dibombardir pelajaran-pelajaran yang hanya merujuk pada angka-angka matematis. Kepandaian dan kebodohan bukan hanya dilihat dari pelajaran matematika, fisika atau ekonomi. Seringkali seorang anak di kelas dianggap bodoh, ternyata malah brilian. Banyak factor yang menjadi tolok ukur untuk menilai seorang anak. Yang pasti, tatakrama, perilaku sopan, dan pengenalan secara tegas terhadap yang baik dan yang buruk, menjadi sangat penting, sebagai bagian dari pelatihan kedisiplinan, kepatuhan terhadap orang tua dan hukum, serta pemosisian diri dalam kubu positif.

Untuk itu, mungkin, pelajaran Budi Pekerti bisa ditinjau kembali. Bukan dalam bentuknya yang terus berubah, sesuai arah angin politik penguasa, seperti yang terjadi pada era Orde Baru. Pelajaran Budi Pekerti dirubah menjadi Pelajaran Moral Pancasila (PMP), dan seterusnya, yang sesungguhnya bermuara pada kepentingan politik penguasa. Melainkan semua tertuju pada tujuan mulia: mencetak generasi bangsa yang bermartabat. Dan, untuk membangun pelajaran Budi Pekerti itu, sumber yang paling masuk akal adalah agama (Islam). Bukan buah pikiran manusia yang terus mengalami transfofmasi dalam batasan yang tidak jelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar