Selasa, 10 Mei 2011

Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Volume Dan Luas Bangun Ruang Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas VIII SMPN 5 Tulungagung

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelajaran Matematika diberikan di semua sekolah baik di jenjang pendidikan dasar maupun pendidikan menengah. Pelajaran matematika yang diberikan di semua jenjang pendidikan diharapkan akan mempunyai kontribusi yang berarti bagi bangsa masa depan, khususnya dalam “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.[1]
Namun, jika kita perhatikan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan arus globalisasi yang makin cepat, maka guru sebagai satu-satunya sumber informasi tidak mungkin lagi menjadi sumber informasi tunggal bagi peserta didik.[2] Menurut penelitian Jakson bahwa peranan guru itulah yang memegang peranan yang terpenting, dalam arti bahwa perhatian guru pribadi terhadap siswa-siswanya lebih memajukan perkembangan anak, dimana seorang guru lebih sering menghadapi anak-anak dari kelas itu.[3]
Guru sebagai pendidik harus menyadari bahwa kemajuan pendidikan lebih tergantung kepada dedikasi guru serta kreatifitasnya setelah mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi diberbagai tempat[4]. Kreatifitas yang dimiliki guru terletak pada metode dan strategi yang diterapkan dalam pengajaran khususnya pengajaran matematika. Pengajaran matematika hendaknya lebih bervariasi baik metode maupun strateginya guna mengoptimalkan potensi siswa. Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika.[5] Pengajaran matematika disekolah pada umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus dan konsep-konsep secara verbal tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa.
Dalam pengenalan rumus–rumus dan konsep-konsep matematika di kelas menunjukkan bahwa sering terjadi kesalahan dalam pengajarannya. Hal ini disebabkan karena guru tidak memahami dengan baik matematika yang akan digunakan sebagai wahana pendidkkan[6].
Disamping itu, guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan berfikir siswa atau dengan kata lain tidak melakukan pengajaran bermakna, metode yang digunakan kurang bervariasi, dan juga guru lebih mendominasi kelas atau mendominasi kegiatan belajar mengajar, sedangkan siswa lebih sering berperan sebagai pendengar dan pencatat yang baik.[7]
Mengajar akan efektif bila kemampuan berfikir siswa diperhatikan dan karena itu perhatian ditujukan kepada kesiapan struktur kognitif siswa. Adapun struktur kognitif mengacu pada organisasi pengetahuan dan pengalaman yang telah dikuasai seorang siswa yang memungkinkan siswa itu dapat menangkap ide/konsep-konsep baru. Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan intelektual siswa berlangsung bertahap secara kualitatif. Walaupun perkembangan itu nampaknya berjalan dengan sendirinya, nampaknya perlu diarahkan sebab perkembangan tersebut dapat dibantu atau terhalang oleh keadaan lingkungan.[8]
Melihat kondisi tersebut maka di perlukan suatu strategi pembelajaran yang sesuai dalam menyampaikan pokok-pokok bahasan matematika kepada peserta didik. Strategi belajar matematika adalah kegiatan yang dipilih pengajar dalam proses belajar mengajar matematika yang dapat memberikan fasilitas belajar sehingga memperlancar tercapainya tujuan belajar matematika.[9] Kalau kita lihat salah satu komponen pendidikan di sekolah adalah siswa, dalam pembelajaran siswa merupakan subyek yang mengalami proses pembelajaran, sehingga kemampuan siswa turut mempengaruhi tingkat kecepatan proses belajar dan tingkat keberhasilan belajar.
Pelajaran matematika ditingkat SMP terdiri dari berbagai sub-sub pokok bahasan, salah satunya adalah menentukan rumus Volume dan Luas Bangun Ruang yang diajarkan di kelas VIII (Kurikulum Berbasis Kompetensi, 2004). Dalam materi mengidentifikasikan Bangun Ruang terdapat beberapa Kompetensi Dasar yang harus dicapai yaitu :
(1) Menentukan Luas Selimut dan Volume tabung, bola, kerucut dengan Indikator : (a) Menyebutkan unsur–unsur jari-jari/diameter, tinggi, sisi alas dari tabung dan kerucut, (b) Melukis jaring-jaring tabung, dan jaring-jaring kerucut, (c) Menghitung luas selimut tabung, kerucut dan bola, (d) Menghitung volume tabung, kerucut dan bola, (e) Menghitung unsur-unsur Bangun Ruang Sisi Lengkung jika volume Bangun Ruang Sisi Lengkung diketahui, (2) Menghitung besar perubahan volume dengan Indikator : (a) Menghitung perbandingan volume tabung, kerucut dan bola karena perubahan ukuran jari-jari, (b) Menghitung besar perubahan volume tabung, kerucut dan bola jika jari – jarinya berubah.[10]
Berdasarkan hasil wawancara dalam studi pendahuluan di SMPN 5 Tulungagung dengan guru mata pelajaran matematika. Peneliti melihat bahwa dalam pengajaran mencari Volume dan Luas Bangun Ruang khususnya Tabung, Kerucut, Bola, pada umumnya langsung mengenalkan rumus menentukan volume dan luas bangun ruang seperti tabung, kerucut, dan bola tersebut, kemudian anak dilatih menggunakan rumus tersebut. Sehingga siswa kurang dilibatkan dalam memanipulasi benda konkret. Guru beranggapan bahwa penggunaan benda konkrit (alat peraga) merepotkan, karena hasilnya sama saja dengan yang tidak menggunakan alat peraga.
Dari kondisi pembelajaran di sekolah tersebut dalam mencari volume dan luas Bangun Ruang, terkesan bahwa guru lebih banyak mendominasi kegiatan. Siswa hanya mengamati apa yang dilakukan guru seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi cara mengerjakan soal, dan dilanjutkan latihan-latihan soal.
Dalam upaya meningkatkan penguasaan Konsep Volume dan Luas Bangun Ruang siswa akan mengembangkan pemahamannya dengan baik jika mereka dapat secara mudah mengaitkan antara sesuatu yang telah mereka kenal dengan pengetahuan dan pemahaman yang baru atau yang belum dikenal. Hubungan dalam memahami materi yang abstrak tidak dapat dibesar–besarkan. Keberhasilan dalam belajar yang ditandai oleh penyediaan lingkungan belajar yang membantu siswa dalam membuat hubungan-hubungan tersebut. Siswa selanjutnya mampu menyadari adanya saling hubungan antara materi dan perannya dalam situasi kehidupan nyata.[11]
Salah satu cara dalam meningkatkan penguasaan konsep Volume dan Luas Bangun Ruang adalah dengan melalui model pembelajaran yang memungkinkan tercapainya tujuan pengajaran. Model pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi permasalahan diatas adalah “Pembelajaran Kontekstual”. Pembelajaran Kontekstual bermula dari pandangan ahli pendidikan klasik John Dewey yang pada tahun 1916 mengajukan teori Kurikulum dan Metodologi Pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman dan minat siswa.[12]
Pembelajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah–masalah dunia nyata atau masalah–masalah yang disimulasikan. Pembelajaran Kontekstual terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah–masalah dalam dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa dan tenaga kerja.[13]
Untuk mengatasi kendala yang mungkin timbul ini, guru diharapkan dapat memahami pembelajaran kontekstual secara mendalam.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik dan berusaha mencari solusi dalam meningkatkan penguasaan siswa terhadap konsep volum dan luas bangun ruang, oleh karena itu peneliti mengadakan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Volume Dan Luas Bangun Ruang Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas VIII SMPN 5 Tulungagung
B. Penegasan Istilah
Untuk mengatasi agar tidak terjadi kesalahan pemaknaan tentang istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka dipandang perlu menjelaskan istilah – istilah yang ada pada Judul Penelitian diatas sebagai berikut :
1. Penegasan Konseptual
a. Upaya Meningkatkan Penguasaan
Upaya Meningkatkan penguasaan adalah suatu proses pembelajaran mengaitkan antara pengetahuan yang sudah diperoleh siswa dengan pengetahuan baru dalam rangka perubahan pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman belajar, sehingga akan diperoleh hasil belajar siswa secara bermakna dan nilai belajarnya juga semakin baik dan meningkat
b. Konsep Volume dan Luas
Konsep dalam matematika adalah pengertian abstrak yang memungkinkan kita untuk mengklasifikasi obyek atau kejadian tersebut adalah contoh atau bukan contoh dari pengertian tersebut.
Volume adalah ukuran untuk menyatakan besar ruangan yang diperlukan bagi benda tersebut. Sedangkan Luas adalah jumlah luas dari semua bidang sisi yang membentuk benda tersebut.
c. Bangun Ruang
Bangun ruang yang dimaksudkan adalah bangun ruang yang semua bidang sisinya tidak memiliki titik sudut. Contohnya seperti kerucut, bola dan tabung.
d. Menggunakan Pendekatan Kontekstual
Yang dimaksud dengan Pendekatan Kontekstual menurut :
The Washington[14] adalah pengajaran yang memungkinkan siswa memperkuat, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademisnya dalam berbagai latar sekolah dan luar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada dalam dunia nyata.
Yang mana siswa ditunjukkan dengan beberapa contoh berupa benda yang berbentuk Tabung, Bola dan Kerucut kemudian siswa disuruh untuk menemukan sendiri rumus Volume dan Luas dari bangun tersebut.
2. Penegasan Operasional
Secara operasional upaya meningkatkan pemahaman konsep Volume dan Luas Bangun Ruang dengan Pendekatan Kontekstual adalah sebuah usaha yang dilakukan untuk meningkatkan penguasaan konsep volume dan luas bangun ruang dengan cara membuat kelompok-kelompok belajar siswa. Kemudian tiap-tiap kelompok itu diberi tugas untuk mencari benda-benda yang berbentuk tabung, kerucut, bola yang ada di lingkungan sekitar. Setelah itu siswa diajak untuk menentukan Volume dan Luas dari benda-benda tersebut. Dari kegiatan yang dilakukan oleh guru dan peserta didik diharapkan siswa mampu untuk memecahkan persoalan, berfikir kritis dan melaksanakan observasi.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, secara operasional masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
  1. Bagaimana upaya meningkatkan Penguasaan Konsep Volume dan Luas Bangun Ruang (Tabung, Kerucut dan Bola) dengan menggunakan Pembelajaran Kontekstual ?
  2. Bagaimana penguasaan peserta didik tentang Konsep Volume dan Luas Bangun Ruang (Tabung, Kerucut dan Bola) dengan Pendekatan Kontekstual ?
  3. Bagaimana hasil yang dicapai tentang Penguasaan Konsep Volume dan Luas Bangun Ruang (Tabung, Kerucut dan Bola) dengan Pendekatan Kontekstual ?
D. Tujuan Penelitian
Bertitik tolak dari pertanyaan penelitian, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan Konsep Volume dan Luas Bangun Ruang (Tabung, Kerucut dan Bola) dengan Pendekatan Kontekstual sehingga dapat meningkatkan penguasaan siswa kelas VIII SMPN 5 Tulungagung.
2. Mengetahui penguasaan siswa kelas VIII SMPN 5 Tulungagung tentang Konsep Bangun Ruang (Tabung, Kerucut dan Bola) Dengan Pendekatan Kontekstual.
3. Mengetahui hasil penguasaan konsep Bangun Ruang (Tabung, Kerucut dan Bola) yang dicapai dengan Pendekatan Kontekstual.
E. Manfaat Penelitian
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat bermanfat baik secara teoritis maupun praktis :
1. Secara Teoritis
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan dan melengkapi teori-teori yang diterapkan dalam pembelajaran matematika, khususnya dalam meningkatkan pemahaman konsep volum dan luas bangun ruang (tabung, kerucut dan bola).
2. Secara Praktis
Secara paktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1). Peneliti
Dapat memberikan informasi tentang upaya meningkatkan penguasaan Konsep Volume dan Luas Bangun Ruang (Tabung, Kerucut dan Bola) dengan Pendekatan Kontekstual.
2). Guru
Dapat dimanfaatkan sebagai masukan dalam upaya meningkatkan Penguasaan Konsep Volume dan Luas Bangun Ruang (Tabung, Kerucut dan Bola) dengan Pendekatan Kontekstual di kelas VIII SMPN 5 Tulungagung.
3). Siswa
Dapat membantu siswa untuk menumbuhkan motivasi belajar dalam memahami Konsep Volume dan Luas Bangun Ruang (Tabung, Kerucut dan Bola).


[1] Soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, (Jakarta : Dirjen Dikti, 1999), hal.3
[2] Gulo, W, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : Grasindo Pers, 2003) hal.5
[3] Gerungan, W.A, Psikologi Sosial, ( Jakarta : Refika Aditama, 2002) hal. 194
[4] Soedjadi, Kiat Pendidikan ..........hal.101
[5] I Gusti Putu Suharta, Matematika Realistik : Apa dan Bagaimana,http// www/duniaguru.com.htm
[6] Soedjadi, Kiat Pendidikan......, hal.100
[7] Sudarman Benu, Prosiding Seminar Nasional Matematika Jurusan Matematika, (Surabaya ITS Surabaya), hal. 431
[8] Herman Hudoyo, Pengembangan Kurikulum......., hal. 64
[9] Herman Hudoyo, Strategi Belajar Mengajar Matematika, (Malang : IKIP Malang 1990), hal. 11
[10] Lima, Suharyono, Widosuwahyono A, Mahir Matematika SMP Kelas 2, (Jakarta : Grasindo, 2004) hal. 11
[11] Nurhadi, Burhan Yasin, Agus Gerrad Senduk, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK, 2004, (Malang : UNM, 2004) hal.26
[12] Ibid, hal. 8
[13] Ibid, hal.13
[14] Nurhadi, Burhan Yasin, Agus Gerrad Senduk, Pembelajaran Kontekstual, ......... 12

Skripsi lengkap DOWNLOAD disini!!!
Good Luck!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar